Rabu, 14 November 2012

Tayamun


                Tayamun artinya membasuh bagian sebelah kanan terlebih dahulu kemudian dilanjutkan pada bagian kiri. Hal ini sama saat membasuh tangan ataupun kaki.
                Dari Aisyah ra., ia berkata, Rasulullah saw. senang mendahulukan sebelah kanan, baik ketika memakai sandal, menyikat rambut, bersuci, bahkan dalam setiap hal.”HR Bukhari dan Muslim
Para ulama hadits sepakat bahwa hadits ini shahih.
               
Dari Abu Hurairah ra., bahwasanya Rasulullah saw. bersabda, yang artinya
“Jika kalian mengenakkan pakaian, dan jika kalian berwudhu, mulailah dengan bagian kanan” HR Abu Daud.
Di klasifikasikan hadits yang shahih oleh Syekh Al-Bani dalam Shahih al-Jami’

(Di kutip dari Terjemahan Kitab Fiqih Sunnah karangan Syekh Sayyid Sabiq Jilid 1)

Wadi


Wadi adalah air yang berwarna putih kental yang keluar mengiringi air kencing. Para Ulama sepakat dan tidak ada perbedaan di antara mereka bahwa wadi hukumnya adalah najis. Aisyah ra. berkata” Wadi keluar setelah kencing. Karena itu, hendaknya seseorang mencuci kemaluannya, lalu wudhu dan tidak perlu mandi.” HR Ibnu Mundziri.
          Mengenai sperma, wadi dan madzi, Ibnu Abbas ra. mengatakan,”Keluarnya sperma mewajibkan mandi (besar). Sementara keluarnya madzi dan wadi tidak mewajibkan mandi dan orang yang bersangkutan tetap dalam kedaan suci (dari hadas besar).” HR Atsram dan Baihaki
           Sedangkan redaksi Baihaki adalah,” Jika kamu keluar wadi dan madzi, maka cucilah kemaluanmu dan berwudhulah sebagaimana kamu berwudhu untuk shalat.”
Wallahu’alam
(Di kutip dari Terjemahan Kitab Fiqih Sunnah karangan Syekh Sayyid Sabiq Jilid 1)

Hakikat Niat


Dalam Kitab Ighatsah al-Lahfan, Ibnu Qayyim berkata “ Arti niat adalah menyengaja  dan berkeinginan yang kuat untuk melakukan sesuatu. Niat terletak dalam hati, dan ia tak ada berhubungan sama sekali dengan lisan. Oleh karena itu, tidak ada satu hadits pun yang menjelaskan bahwa Rasulullah saw. dan para sahabat melafalkan niat. Melafalkan niat ketika hendak bersuci dan mengerjakan shalat bisa memberi peluang  pada setan untuk mengganggu dan menanamkan rasa waswas, setan mengekang dan menyiksa mereka dengan niat, sehingga mereka berusaha untuk memperbaiki (niatnya). Hal ini bisa Anda lihat pada sebagian orang yang terus menerus mengulang-ulang (dalam melafalkan) niat, padahal (melafalkan) niat tidak termasuk bagian dari shalat.
Wallahu’alam…
(Di kutip dari Terjemahan Kitab Fiqih Sunnah karangan Syekh Sayyid Sabiq Jilid 1)